Surprisingly Bad Ending of 2022

Malam tahun baru 2023 aku menangis. Mataku capek, udah keliatan capek dan lecek. Aku nggak tau harus gimana menghadapi diriku sendiri yang sungguh melelahkan. Aku gak tau harus berbuat apa selain sabar dan percaya kalo cobaanku perlahan dimudahkan. Seperti roller coaster rasanya hatiku setiap hari dibuat bahagia, namun sebentar lagi terbesit ingin menghilang bahkan mengakhiri kehidupan lagi.

Pikiran buruk itu masih muncul di kepalaku. Hal simple untuk menyayangi diriku sendiri pun rasanya aku masih mempunyai jutaan alasan untuk membenci. Bagaimana bisa aku menyayangi orang lain dengan dengan sepenuh hati kalo hatiku saja hanya berisi hal-hal buruk terhadap diriku sendiri.

Bagaimana bisa anak kecil ini berlagak dewasa layaknya orang yang bijak dan selalu penuh perhitungan kalo hasilnya selalu zonk. Bagaimana bisa kehilangan suatu barang kecil menyakiti hati, kemudian seringkali mengutuk diri sendiri sebagai manusia bodoh. Sepertinya konsep doa tidak pernah tertancap di otak dan hatiku. "Ucapan adalah doa", hanya sebuah kisah yang melewati garis mata tanpa ku proses di kepala.

Tidak ada alasan untuk selalu meminta diwaraskan jasmani dan rohani agar tidak masuk RSJ. Semakin menjadi orang gila yang mempunyai ekspektasi tinggi terhadap dirinya sendiri dan dunia. Di kepalaku terlalu sesak dengan pikiran-pikiran yang datang nggak tau dari mana. Selalu ada alasan untuk membenci diri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

I Love Me

Hallo My Inner Child

Seandainya Bisa Nangis di Pangkuan Ibuk